Mengenal sejarah kaos polos

Posted: 25 Oktober 2012 in Uncategorized

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos polos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos polos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat.

Kaos sendiri mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos polosnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos polos sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955).

Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos polos baru, seperti tank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos polosmerupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos polosmengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian (Jakjazz), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (kaos-kaos Dagadu, Joger).

Fashion, Kaos, dan Komunikasi

Meski sudah mulai mendunia sejak tahun 50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos polos ke dalam kategori fashion . Kaos polos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos polos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos polos sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia (high fashion). Menyobek beberapa bagian dari kaos polos bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalah unfashion.

Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos polos turut berperan dalam perubahan makna kaos polos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos polos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarangkaos polos masih digolongkan dalam kategori low fashion (=unfashion?).  Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos polos merupakan low fashion yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal.

Variasi kaos polos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos polos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos polos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos polos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos polos sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos polos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya.

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos polos ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos polos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos polos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos polos Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos polos yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”).

Tetapi sekarang ini kaos polos juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, penulis pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos polos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya.

Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman yang memakai kaos polos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos polos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos polos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos polos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos polos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos polos tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”.

Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos polos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos polos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos polos, apakah kaos polos menjadi high fashion ?).

Kaos polos dan Kehidupan Modern

Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos polos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos polos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos polos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos polos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos polos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos polos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos polos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya.

Persis seperti semboyan kaos polos Dagadu ” Smart and Smile “, kaos polos mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos polos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos polos di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos polos.

Referensi

    Ajidarma, Seno Gumira, 2001, “Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU”, Bernas , 12 Januari 2001.

    Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, “Codes, Chronotypes and Everyday Objects”, makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/

    pkm1.txt

    Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.

    Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.
McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.

    Rojek, Chris, 2000, “Leisure and rich today: Veblen”s thesis after a century”, Leisure Studies 19 (2000), hal. 1-15.

    T-Shirt King, “History of American T-Shirt”. Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html

Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi “Art on T-Shirt”, Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001 dengan sedikit perubahan.

Sumber: http://www.*****.co.id/post/6/YUUUK%21%21%21+Mengenal+sejarah+kaos+polos

Iklan

Cok Komen Dulu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s